Waktu baca : +/- 4 menit

 

Pada zaman dulu, sebagian besar masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan tenaga lahiriah saja dalam menjalani kehidupan. Bahkan lebih mengutamakan kekuatan batin atau rohani melalui berbagai macam doa dan cara. Misalnya dengan bertapa, tirakat, puasa dan lainnya. Ini merupakan wujud kepasrahan diri pada Tuhan dan cinta kasih bagi sesama manusia.

Selain itu tak sedikit yang membuat sesaji atau sajen kemudian meletakan di tempat-tempat tertentu dan mempunyai nilai khusus. Bentuknya terdiri dari puluhan jenis dan salah satunya bernama inthuk-inthuk. Sesaji ini dibuat khusus untuk anak kecil yang usianya belum mencapai akil balik.

Meski sudah banyak yang meninggalkan tradisi ini, namun ada sebagian masyarakat yang mempertahankannya. Terutama yang tinggal di daerah pedesaan, apalagi di Jawa Timur dan Jawa Tengah, termasuk Yogyakarta.

Bentuk inthuk-inthuk dan maknanya

Inthuk-inthuk merupakan sesaji yang memiliki kemiripan dengan nasi tumpeng, tetapi hanya memiliki ukuran kecil saja. Biasanya setiap daerah memiliki aturan yang sedikit berbeda ketika membuat sajen ini. Tetapi secara garis besar, jumlahnya ada lima dan menggunakan lepek atau cawan tanah liat sebagai tempat peletakan.

Satu tumpeng berukuran paling besar dan berwarna putih berada di tengah. Di ujungnya terdapat tancapan bawang merah dan lombok merah menghadap arah atas dan terpasang bersama-sama menggunakan lidi. Tumpeng ini merupakan simbol dari jiwa atau sukma atau Pancer.

Sedangkan empat lainnya, berwarna hitam, merah, kuning dan putih dengan posisi mengelilingi tumpeng besar. Masing-masing memiliki makna simbolis yang berbeda, yaitu tanah, api, udara dan air.

Di sekitar kumpulan nasi tumpeng kecil ini kemudian dikasih taburan bunga mawar merah muda atau jambon. Ada pula yang melengkapinya dengan satu butir telur ayam mentah, miri dan kluwak beserta uang kertas atau uang koin.

Selain itu masih ada perlengkapan lain berupa setaman yang terdiri dari bunga mawar merah, melati, kenanga dan kanthil dalam wadah lain. Di beberapa daerah, tidak sedikit yang menambahinya dengan api kecil atau senthir.

Setelah semuanya lengkap, inthuk-inthuk akan diletakan tepat di bawah tempat tidur . Alasannya tidak lain adalah karena tempat tidur merupakan sebuah area yang paling sering menjadi tempat istirahat saat tidak melakukan aktivitas.

Baca juga : Pondok Pesantren Tertua di Indonesia, Usianya Ada yang Mencapai 500 Tahun (Bagian 1)

Baca juga : Pondok Pesantren Tertua di Indonesia, Usianya Ada yang Mencapai 500 Tahun (Bagian 2)

Sedulur Papat Limo Pancer

cinta kasih
Ilustrasi sedulur papat lima pancer. Foto : web.facebook.com/pageKataKita

Masyarakat Jawa percaya jika energi rohani setiap manusia itu mengandung unsur yang populer dengan sebutan ‘Sedulur Papat Limo Pancer’ atau empat saudara dan satu yang menjadi pusatnya.

Nah, pusat dari semua energi ini tidak lain adalah jiwa atau sukma yang disimbolkan dalam bentuk tumpeng inthuk-inthuk besar dan berada di tengah. Lalu untuk keempat tumpeng kecil lainnya yang ada di pinggir, merupakan unsur rohani yang terdiri dari tanah, api, udara dan air.

Kemudian untuk kelengkapan lain yang ada di sekeliling tumpeng dan kembang setaman, berperan sebagai ‘penghubung’ kelima unsur atau saudara gaib tersebut.

Baca juga : Mengenal Sunan Bayat atau Ki Ageng Pandanaran II, Tokoh Penyebar Agama Islam di Jawa

Waktu pemberian sesaji

Waktu pembuatan sajen inthuk-inthuk pada umumnya memilih hari weton kelahiran anak atau ketika buah hati sering rewel dan menangis. Hari weton jatuh setiap lima pekan atau 35 hari sekali. Karena pelaksanaannya memilih hari weton, maka banyak yang menamakan pula pemberian inthuk-inthuk ini dengan sebutan wetonan.

Baca juga : Desa Wisata, Tempat Belajar Budaya dan Kearifan Lokal

Dalam budaya Jawa, banyak yang meyakini bahwa weton lahir merupakan hari penting bahkan menjadi suatu peringatan terkait tentang asal usul manusia dan tujuan hidupnya. Masyarakat Jawa juga yakin sepenuhnya bahwa manusia adalah makluk ciptaan Tuhan. Sehingga hanya kepadaNya kita boleh bersembah diri.

Tujuan utama pemberian sesaji inthuk-inthuk adalah untuk mendoakan, agar si buah hati dapat menjalani kehidupannya dengan lancar dan jauh dari segala macam godaan atau rintangan. Lebih dari itu, anak juga tidak pernah lupa pada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Sehingga selain membuat inthuk-inthuk, banyak pula orang tua yang menyertai cinta kasih ini dengan laku lain misalnya berpuasa. alasannya karena dalam usia yang masih kanak-kanak, keturunannya belum mampu menjalankan kegiatan ritual secara mandiri.

Ada kalanya pula ketika melaksanakan tradisi ini, orang tua mendendangkan tembang Dandhang Gulo. Syair dari lagu ini berisi permohonan agar saudara gaib si anak tidak menganggu dan sebaliknya justru memberi bantuan dan kelancaran demi keselamatan hidupnya. Biasanya orang tua selalu menyenandungkan tembang ini sepanjang malam hingga pagi hari.

Baca juga : 10 Pelawak Paling Legendaris di Indonesia yang Sudah Tiada

Ketika anak mulai menginjak usia remaja atau dewasa, pemberian inthuk-inthuk akan berhenti dan beralih pada adik-adiknya. Pada masa tersebut, orang tua menganggap anaknya  sudah mampu melindungi diri dan membedakan antara hal baik dan hal buruk.

Inthuk-inthuk atau wetonan merupakan wujud cinta kasih orang tua khususnya ibu pada anaknya. Melalui kegiatan ini, manusia akan selalu ingat untuk selalu menjalani kehidupan dengan penuh keberanian. Karena itu sudah sepantasnya apabila tradisi warisan nenek moyang ini dilestarikan. (J-076)